Pengunjung Lapak

Kamis, 24 Oktober 2013

Kupinang Engkau dengan Ar Rahman


Berawal dari obrolan dengan seorang sahabat tentang mahar yang akan diminta ketika akad nanti (ga tau kapan, hehe). Karena ketika ijab kabul terucap, maka itu adalah waktu baik untuk menghaturkan doa. Bayangkan, ribuan malaikat yang sedang hadir sebagai saksi sebuah perjanjian kuat “Mitsaqon Gholizo” antar manusia.
Mendengar pertanyaan tersebut langsung terbersit dipikiranku adalah Surat Ar Rahman. Betapa tidak, Surat Ar Rahman menyimpan segudang keagungan yang dapat menggetarkan hati banyak orang. Tercantum peringatan mengenai semua yang kita peroleh adalah merupakan nikmat Allah, yakni terdapat 31x ayat yang berbunyi “Fabiayyi alaa’I Rabbi kuma tukadzdzi ban” (Dan Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?)
“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.”
MasyaAllah, begitu besar peringatan atas kita untuk senantiasa bersyukur atas rahmat-Nya. Dengan mahar Ar Rahman, aku berharap senantiasa mensyukuri apa pun yang terjadi dalam pernikahan. Mari berkhusnuzon ^^.
Lalu mengapa meminta mahar berupa hapalan Quran?
Bahwa hak seorang wanita meminta mahar apa pun (yang tidak memberatkan) kepada calon suaminya. Seperti kisah Ummu Sulaim yang meminta mahar keislaman Abu Thalhah. Al Imam An Nasa meriwayatkan:
Abu Thalhah telah melamar Ummu Sulaim, maka Ummu Sulaim berkata, “Demi Alloh, tiada mungkin seorang seperti dirimu wahai Abu Thalhah, akan ditolak lamarannya. Tetapi engkau adalah laki-laki kafir, sedang aku seorang muslimah. Tiada halal bagiku untuk menikah denganmu. Tetapi jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku, dan aku tidak akan meminta kepadamu selain itu.”
Maka Abu Thalhah masuk Islam, dan itulah mahar pernikahannya dengan Ummu Sulaim. Tsabit, salah seorang perawi hadits berkata , “Aku belum pernah mendengar sama sekali seorang wanita yang lebih mulia maharnya daripada Ummu Sulaim, yakni Islam. Setelah Abu Thalhah masuk Islam dan mereka menikah, mereka dikaruniai seorang anak” (HR An Nasa`i)
Kisah tersebut turut meyakinkan diri ini untuk meminta mahar yang insyaAllah mulia di hadapan Allah, bukan materi yang dapat sirna dimakan usia. Meskipun diri ini masih jauh sekali dari kesholihan Ummu Sulaim, namun semangat mencari kebaikan tak pernah luntur.
Semoga dengan cita-cita kecil ini dapat berdampak pada terbentuknya generasi qurani di keluarga kecilku yang senantiasa tak henti bertasbih melafalkan lantunan ayat suci Al Quran. InSyaAllah.

1 komentar:

urriva riva mengatakan...

subhanaAllah,, ini membuat keyakinanhatiku untuk itu bertambah.. alhamdulillah

Posting Komentar

Share this article ^^