Pengunjung Lapak

Senin, 26 Desember 2011

Franchise go International! (my first non-fiction book)


Kesempatan yang tidak dapat saya prediksi sebelumnya. Saat salah seorang sahabat yang juga aktif di FLP Ciputat mengirimkan sebuah pesan yang berisikan ingin bertemu empat mata dengan saya. Sontak saya pun bertanya-tanya kiranya apa maksud pertemuan itu. Besoknya, pertemuan itu pun teralaksana. Intinya, dia ingin bekerjasama dengan saya dalam membuat sebuah buku. Ternyata saat itu FLP Ciputat sedang mendapatkan proyek dari sebuah penerbit (loh, saya kok nggak tau?). Saat itu saya memang sedang fokus sibuk mengurus organisasi intra kampus, jadi kiranya agak jarang datang ke Rumpus (Rumah Pustaka FLP).
Setelah mendengar tawaran tersebut, spontan saya langsung mengiyakan, saya pikir, kapan lagi mendapatkan kesempatan tersebut. Selama berkecimpung dalam organisasi kepenulisan, maka banyak kesempatan dan sumbangsih yang dapat saya berikan. Namun, ketika sahabat saya itu mengatakan bahwa deadlinenya adalah minggu depan

Selasa, 20 Desember 2011

the most pressing issues faced by our country




Indonesia is a country rich in natural resources and human resources. Unfortunately, natural resource wealth is not accompanied by an abundance of qualified human resources. Lack of qualified human resources is due to lack of education obtained by the people of Indonesia. Not only affects the deterioration of the nation, even a minimal education have contributed to increasing poverty in Indonesia. Though education helped improve the lives of human beings in so free from poverty. In many ways, poverty is often associated with education, education is considered as one solution to poverty alleviation.
There are several things that cause. First is the concern of government. Advancement of education can be realized if the government make education a main agenda in improving the governance structure. The second is to stop the privatization of educational institutions. Indonesia as a developing country which causing debt increase. So what happens is the privatization of government institutions, including educational institutions. Then the government must be courageous in defending what is right fully

Sosialisasi Pendidikan Karakter Bangsa


Indonesia kini sedang menjadi pesakitan. Belum lupa dalam ingatan kita seorang juara olimpiade digadaikan nyawanya dengan sebuah ponsel oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Lalu betapa mirisnya ketika melihat seorang mahasiswa Universitas Al-Azhar dikeroyok massa sampai kehilangan nyawa karena dituduh mencuri helm. Kita juga disuguhkan pemandangan memuakkan dari para petinggi negara di mana korupsi merajalela. Perilaku elite politik hedonis mengibiri rakyat.
Polemik tersebut menunjukkan adanya krisis ketidakpercayaan diri, kemandirian, dan nasionalisme yang sangat rendah. Kesalahan inilah yang dapat menjerumuskan Indonesia, seperti yang dikatakan Soekarno, “menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa.”. Bahkan, mungkin yang lebih buruk lagi dari kekhawatiran Soekarno, “menjadi bangsa pengemis dan pengemis di antara bangsa-bangsa”
Koentjaraningrat (1974) dalam bukunya yang berjudul Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, menyatakan terdapat lima mentalitas negatif bangsa In

Kamis, 15 Desember 2011

Tips Ngangkot


Hari ini aku dikagetkan dengan telepon dari ibu yang bersuara amat keras. Beliau mengatakan bahwa tersiar kabar di berita lagi-lagi terdapat kejadian pemerkosaan di dalam angkutan umum.

"Pokoknya Laras jangan naik angkot malem-malem, kalo lagi di kampus jangan ngajar! Kawasan kampus Laras itu rawan loh. Kalo nggak ada kuliah langsung pulang, ngapain capek-capek ke kampus kalo nggak ada kuliah lagi. Tuh kan ibu bilang apa, jangan naik angkot malem-malem, kemaren pemerkosaan di angkot trayek deket kampus Laras, sekarang ada kejadiannya lagi, kan serem bangeet."

Mendengar nasehat yang tiada habisnya, aku hanya bisa tertawa, betapa seorang ibu sangat menghawatirkan anak gadisnya. Saat itu menasehatiku panjang lebar, aku hanya bisa berkata "iya, iya, iya, Bu, insyaAllah nggak kayak gitu lagi."

Hedonisme Elite Politik Jadikan Masyarakat Apatis


Tragedi hedonisme merupakan polemik tak berujung yang diaktori oleh para elite politik di Indonesia. Mereka senantiasa menyuburkan budaya hedonisme yang merupakan salah satu akar lahirnya praktek korupsi dalam berbagai birokrasi pemerintah dan lembaga negara. Itu tidak lain karena ruang politik kita telah terkontaminasi semangat hedonisme atau terasuk naluri kebinatangan serta erosi modernisme. Modernisme yang mengagungkan rasionalitas telah menggiring para politisi dalam keterasingan spiritualitas. Fragmen ini yang membuat politisi menjadi sangat individualistik-egoistik.
Seorang filsuf dari Jerman, Willhem Friederick Nietzsche berpendapat bahwa meski para aktor pemerintahan tergambar sebagai kaum beragama, realitanya perilaku mereka jauh

Rabu, 14 Desember 2011

Nenek (The BEST PART of My Life)


Seorang ibu adalah pelita kehidupan. Ibu mengandung, melahirkan, menyayangi, mendidik, dan mengasihi. Saat kita kecil, ketika menangis yang diucapkan berkali-kali adalah “ibu, ibu, ibu”.
Seorang anak adalah cerminan seorang ibu. Apabila seorang anak memiliki perilaku bejat, maka patut dipertanyakan bagaimana sang ibu mendidiknya. Begitu pula apabila seorang anak memiliki moral yang baik, maka sang ibulah yang berperan besar dalam pendidikan karakternya.
Lantas bagaimana dengan nenek kita? Apakah karena beliau merupakan tanggung jawab orang tua, lantas kita bersikap tidak acuh?

Minggu, 11 Desember 2011

Jadi Mahasiswa PEDULI PENDIDIKAN Yukk

Aku nggak mau sekolah, ah. Mendingan ngamen dapet duit. Kalo aku sekolah, aku nggak bisa setoran. (pengamen, 8th)

      
        Tidak jarang ketika melewati beberapa daerah di Jakarta, tampak sejumlah rumah nomaden yang berderet. Sejumlah rumah tampak reyot dan tidak layak huni. Rumah-rumah tersebut berdinding kardus. Ketika mata terpaut pada isi rumah, rasanya tidak seimbang. Para penghuninya tidur bertumpuk dalam satu ruangan yang menyatu dengan dapur. Bahkan terdapat rumah yang berisikan beberapa keluarga. Betapa ketimpangan sosial mengakar, di saat gedung megah menjulang tinggi bernilai triliyunan, dengan jarak kurang dari seratus meter masih saja terdapat daerah kumuh yang berpenghunikan masyarakat buta huruf.

Share this article ^^