Pengunjung Lapak

Minggu, 11 Desember 2011

Jadi Mahasiswa PEDULI PENDIDIKAN Yukk

Aku nggak mau sekolah, ah. Mendingan ngamen dapet duit. Kalo aku sekolah, aku nggak bisa setoran. (pengamen, 8th)

      
        Tidak jarang ketika melewati beberapa daerah di Jakarta, tampak sejumlah rumah nomaden yang berderet. Sejumlah rumah tampak reyot dan tidak layak huni. Rumah-rumah tersebut berdinding kardus. Ketika mata terpaut pada isi rumah, rasanya tidak seimbang. Para penghuninya tidur bertumpuk dalam satu ruangan yang menyatu dengan dapur. Bahkan terdapat rumah yang berisikan beberapa keluarga. Betapa ketimpangan sosial mengakar, di saat gedung megah menjulang tinggi bernilai triliyunan, dengan jarak kurang dari seratus meter masih saja terdapat daerah kumuh yang berpenghunikan masyarakat buta huruf.

Sabtu, 10 Desember 2011

Saat Air Bersih dan Sungai Kritis


9 Oktober 2011
Amalia Larasati Oetomo

Musim kemarau berkepanjangan cukup mencekam para penghuni kehidupan. Air sungai menyusut dan berbau busuk. Pepohonan perlahan layu, dedaunan menguning, dan binatang mati karena dehidrasi. Tidak terkecuali manusia. Defisit air bersih menimpa hampir seluruh daerah di Indonesia, khususnya Jakarta. Tidak sedikit jumlah warga yang mengeluh terkait minimnya air bersih yang dapat mereka peroleh, yakni air minum dan air cuci.
Tidak dipungkiri bahwa dampak kemarau tahun ini terasa lebih parah bila dibandingkan tahun lalu. Padahal intensitas kemarau tahun ini baru empat bulan, yaitu dimulai pada bulan Juni, sedangkan tahun lalu musim kemarau dimulai bulan Mei. Berdasarkan fakta tersebut terselip ketidaksinkronisasian. Lalu, bagaimana hal ini dapat terjadi? Mengapa air sedemikian surut tak tersisa?

Renegoisasi Kontrak Tambang, Royalti Jangan Dikorupsi


Puluhan tahun sejak Indonesia mengusung kemerdekaan, Indonesia dicap gagap dalam mengusung hak-haknya akan pengelolaan pertambangan terhadap pihak asing. Kegagapan pemerintah menelurkan defisitnya nilai keadilan yang telah mengakar bumi. Bila nilai keadilan merangkak turun, rakyat jualah korban yang dipasung.
Dalam bukunya, Zum ewigen Frieden, Immanuel Kant, mengatakan bahwa semua tindakan yang mengacu pada hak orang-orang lain yang maksim-maksimnya bertentangan dengan kepublikan adalah tidak adil.
 Namun, tradisi turun menurun tersebut agaknya sudah mulai pudar, pemerintah sudah berani tegas mengenai hak-haknya akan sumber daya alam yang dikuasai pihak asing. Seperti yang diketahui, hingga kini pemerintah terus berupaya melakukan renegosiasi seluruh kontrak karya pertambangan yang mencakup prinsip luas wilayah, divestasi, pengelolaan lingkungan, royalti, dan kewajiban menggunakan jasa dalam negeri sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba.

Guru Honorer-Pahlawan yang Terdiskriminasi



Oleh: Amalia Larasati Oetomo
Mahasiswa Pendidikan Fisika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Kementrian Pemberdayaan Forum Lingkar Pena Ciputat
21 November 2011

Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kemajuan pendidikannya. Kemajuan pendidikan dapat terlihat dari kualitas para pengajar pada suatu komunitas bernama sekolah. Guru yang berkualitas akan menghasilkan murid yang cerdas. Dalam mewujudkan cita-cita tersebut, seorang guru selayaknya bekerja tanpa pamrih dengan penuh keikhlasan dan kesabaran dalam mendidik peserta didik. Pendidikan yang hakiki yakni tanggung jawab moral dalam profesi guru. Guru tidak hanya memberikan pendidikan akademik, namun juga mengajarkan pendidikan karakter bagi peserta didiknya. Maka, ketika seorang murid dapat mencapai kesuksesannya, hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran seorang guru. 
Meski begitu, perjuangan seorang guru sampai sekarang masih saja dianggap sebelah mata. Tidak sedikit anggapan bahwa guru adalah profesi rendahan, sehingga ketika para mahasiswa lulusan perguruan tinggi keguruan bekerja di sekolah-sekolah, penghargaan yang didapatkan tidak sebanding dengan keringatnya yang bercucuran mengalir. Padahal pasal 39 UU Guru dan Dosen, menyatakan bahwa guru berhak memperoleh penghasilan yang wajar.
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) masih menemukan banyaknya  guru non PNS yang bekerja penuh waktu dari Senin sampai dengan Sabtu, hanya memperoleh penghasilan Rp 200 ribu per bulan. Hal itu merupakan pelecehan profesi guru. Walaupun banyak guru yang tulus mengabdi meski honor yang diterima amatlah minim, namun perlakuan tersebut tidaklah manusiawi. Guru pun manusia biasa yang layak mendapatkan pendapatan normal demi melangsungkan kehidupannya. Tidak dapat dibayangkan apabila seorang kepala keluarga yang berprofesi sebagai guru honorer di sebuah sekolah pedalaman hanya mendapatkan gaji di bawah Rp 400 ribu per bulan. Jauh di bawah rata-rata UMR, yakni Rp 1.200.000.
Koordinator Pusat Federasi Guru Swasta Indonesia (FGSI), Muhammad Fatah Yasin menyatakan, serikat organisasi guru sedunia (Education International) pada peringatan Hari Guru Sedunia tahun 2007 menyerukan kepada seluruh pemerintahan di dunia bahwa memperbaiki kondisi kerja guru sama artinya dengan memperbaiki kondisi belajar anak. Pengajar dituntut untuk berperan aktif dalam mewujudkan kemajuan pendidikan. Oleh karena itu, selayaknya guru sebagai pahlawan kini dan nanti, diberikan tanda jasa yang sepadan dengan perjuangannya agar dapat memberikan sumbangsih terbaiknya untuk anak negeri. Semoga.


Cerita Supir Angkot: Motor Berjubel, Setoran Macet!!



Telah dimuat di Website Suara Jakarta
Oleh: Amalia Larsati Oetomo
1 November 2011

Sepasang mata tampak lelah, kulitnya yang kehitaman tampak berpeluh lelah, keningnya berkerut, kepalanya sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan mencari ‘sewa’ yang tak kunjung datang. Setengah jam sudah ia me-ngetem pada sebuah pertigaan. Wajahnya mengerut, helaan napasnya tidak beraturan, dihitungnya uang setoran yang diperolehnya selama tiga jam ‘narik’, tidak sampai sepuluh ribu ternyata. Ia menghela napas kembali.
Pemandangan ini tidak jarang terlihat bagi pembaca yang sering berpergian menggunakan angkutan kota atau istilah lainnya adalah angkot. Meski terkadang seorang penumpang seringkali kesal ketika angkot yang ditumpanginya tidak kunjung berangkat, padahal sudah lima belas menit menunggu si abang supir mencari ‘sewa’ penumpang lain. Bahkan tidak jarang pula supir angkot marah ketika uang yang diberikan oleh penumpang ternyata kurang.
Fenomena ini tidak hanya terdapat di ibu kota, namun kerap ditemui pada daerah pinggiran seperti Bekasi. Pengusaha angkot di Kota Bekasi mengaku sulit meremajakan armada sebagai imbas dari semakin sepinya penumpang. Angkot pun terancam tak dioperasikan lagi lantaran bakal digusur moda angkutan lain untuk menarik penumpang. Jumlah penumpang angkot selama dua tahun terakhir diperkirakan turun hingga lima puluh persen. Hal ini lantaran banyak masyarakat yang beralih menggunakan motor dan mobil pribadi.
Merajalelanya penggunaan motor pribadi yakni menjadi salah satu faktor hampir vakumnya angkot di berbagai daerah. Apalagi didukung penjualan motor bak kacang goreng. Para penumpang sering mengeluhkan tidak efektifnya penggunaan angkot karena mengurangi mobilitas. Apalagi supir angkot seringkali menunda keberangkatannya agar mendapatkan sewa yang penuh.
  Berkurangnya penumpang turut menjadikan para sopir angkot tersebut gigit jari. Bayangkan, setoran yang diperoleh setiap sopir untuk trayek yang masih ramai penumpang yakni Rp 125 ribu per hari. Namun untuk saat ini, sopir angkot hanya mendapatkan setoran kisaran enam puluh ribu sampai tujuh puluh ribu perhari.
Bahkan di Bekasi, terdapat beberapa trayek yang sudah kehilangan penumpang sama sekali. Trayek tersebut antara lain 02A (Bumi Mutiara-Pondok Gede), 05 (Jatiasih-Terminal Bekasi), 06 (Kranggan-Kampung Rambutan), K27 (Jatiwarna-Pondok Gede), dan K26A (Pekayon-Terminal Bekasi). 
  Hal ini memberikan dampak negatif bagi pengusaha angkot, khususnya yang bermodal kecil. Dampak tersebut berakibat tidak tertutupnya biaya peremajaan kendaraan yang memakan biaya tidak sedikit. Tidak hanya itu, apabila trayek-trayek semakin sepi, bukan hanya pengusaha angkot yang gulung tikar, namun para supir angkot pun terkena imbas. Akan terciptalah sebuah ledakan pengangguran secara massal. Apabila pengangguran massal terjadi, bersiaplah pada suatu kondisi di mana kemiskinan ikut menjamur. Padahal kemiskinan masih saja terpelihara dan membelit sebagian masyarakat di negeri ini.
  Fenomena ironi ini layaknya ditinjau dan diselesaikan bersama. Pemerintah hendaknya tidak hanya berpangku tangan sambil menonton dari kejauhan. Namun diharapkan tindakan nyata yang dapat menyelesaikan permasalahan ini. Semoga.



Belanja oh Belanja




Belanja. Satu kata yang membuat para kaum hawa menoleh cepat. Belanja oh belanja. Ketika kaki melangkah menuju suatu pusat perbelanjaan, mata tertaut pada sebuah papan putih yang bertuliskanSALE: 50% OFF. Oh tidak. Jangan goda aku. Tapi apa boleh buat, batin sudah luluh, keyakinan telah goyah. Sebuah sepatu ‘lucu’ semakin meruntuhkan iman kita. Ketika melihat sepatu ‘lucu’ itu, rasanya tubuh mengalami suatu gejolak tak biasa. Jantung berdebar, nafas tak teratur, layaknya jatuh cinta. Tanpa berpikir panjang, badan langsung dielakkan ke dalam toko. Tidak ada lagi sinkronisasi antara otak dan saraf motorik. Langkah kaki terhenti, kita pandangi, tangan beringsut memegang permukaan sepatu, mengelus-elus (ini asli atau bukan). Lagi-lagi karena saraf otak seketika memutuskan hubungan dengan saraf motorik dan sensorik, tidak ada lagi pikir-pikir panjang dalam memutuskan untuk membeli atau tidak.
“Mbak, minta yang nomor 38,” perintah kita ke pada mbak-mbak pelayan toko.
Setelah menunggu selama dua menit, akhirnya mbak-mbak itu membawa sesuatu yang bersinar amat terang. Kilatan-kilatan kuning di atasnya, lalu puluhan bintang menari di sekelilingnya. Itu! Itu! Suara hati kita langsung berteriak.

Itu punya gue!!

Horee, gue menang.

Gue kalah. Hiks

Sebuah label kecil berwarna merah dalam sepatu membuat terperanjat kaget. Label berwarna putih bertuliskan Made In China membuat kita merutuk.  

”Pantes aja off  50%, wong buatan cina. Gue ketipuu!!”

Kenapa? Kenapa?

Sekilas, itulah gambaran mayoritas kaum hawa yang hakikatnya doyan belanja. Tidak setuju?
#penulis langsung kabuuurr, takut digebukin pembaca.

Tidak ada wanita yang tidak suka berbelanja. Dari mbak-mbak metropolis sampai mbak-mbak jualan ikan di pasar pasti suka belanja. Tapi mungkin jenis dan kualitas barangnya yang beda. Kalau mbak-mbak metropolis belanjanya komplit. Sepatu, tas, baju, jam, tas, tas, tas, sepatu, baju, sepatu, dan jam. Barang-barang yang dibeli pun memiliki brand, seperti Gucci, Guess, Versace, Zara, Fossil, LV, Kenneth Cole, Ferragamo, Bvlgari, de el el. Walah, apa itu? Nama makanan ya? Haha. Pada intinya semua wanita pasti suka belanja, meski intensitasnya berbeda.
Ada yang beranggapan bahwa sebulan tidak belanja rasanya pegal-pegal, menggigil, bahkan meriang. Loh? Oleh karena itu, biasanya mereka menyediakan budget tertentu untuk shopping-shopping. Ada pula yang tidak mau bersusah-susah menyisihkan sebagian uang untuk belanja, oleh karena itu, mereka selalu menggunakan kartu sakti, yaitu, (bunyi drum), kartu kredit.
Penulis pernah mendengar suatu slogan, yaitu credit card is human’s best friend. Mungkin best friend in the beginning, but enemy in the last war. Lalu apabila diterawang human di sini mengacu pada fragmen kewanitaan, meski tidak menampik bahwa tidak sedikit pula para pria yang kecanduan belanja. Sisi kewanitaan sejatinya menuntut untuk berpenampilan selalu rapi, mempesona, dan (yang utama) cantik. Apalagi di-push oleh kondisi masyarakat yang mengalami disparitas status sosial, yakni penampilan yang baik dianggap sebagai suatu ke-normalan. Sehingga nilai penampilan dianggap suatu yang wajib dipenuhi hak-haknya.
Persepsi tersebut turut mengaduk-aduk paradigma kita mengenai suatu nilai kemanusiaan. Defisit akan nilai kemanusiaan terkadang tidak memanusiakan manusia sekitar yang tidak dalam kategori ‘normal’. Normal di sini adalah suatu tampilan yang dianut oleh mayoritas masyarakat. Padahal ke-mayoritas-an tersebut tidaklah absolut. Kita terkadang menyayangkan, tidak fair apabila seorang yang capable, have a good skill, tetapi berpenampilan seadanya tanpa atribut kemewahan yang diusungnya malahdidiskriminasi, bahkan tidak dipenuhi hak-haknya untuk berbicara.
Berdasarkan asumsi tersebutlah, masyarakat berkompetisi untuk tampil mencapai ke-normalan yang dianut oleh mayoritas. Budget minim tak apalah, yang penting tampil pol. Selama ada kartu sakti, semua dapat diraih dengan mudah. Hal itu diendus oleh kaum kapitalis. Dengan mempertaruhkan moral bangsa, mereka mendulang rupiah dengan mudah. Tokoh panutan diusung sebagai simbol metropolis yang ‘normal’. Tokoh-tokoh tersebut tidak lain adalah belia yang masih duduk di bangku sekolah. Mereka ditampilkan sebagai sosok sempurna, yang hanya berkutat dalam siklus hedonisme. Nongkrong, pacaran, dan belanja. Ketiga hal itu tercakup dalam ruang lingkup senang-senang.
Lalu, apa yang mereka llakukan agar mencapai kegiatan senang-senang itu? Kaum kapitalis punya jawabannya. Ikut life style mereka, dari mulai penampilan, makanan, pekerjaan, dan pola hidup. Dijamin selamanya akan terjebak dalam siklus negativitas. Berhutang, berfoya-foya, bermaksiat, dan lain-lain. Naudzubillah. Semoga kita terhindar dari segara sisi negatif tersebut.
Wallahualambishowab

Epilog:
Bahkan akhwat-akhwat* militan pun juga suka belanja loh. Hehe. Meski akhwat mungkin berbeda dengan mbak-mbak gaul metropolis yang senantiasa memegang belasan kartu ajaib di dompetnya. Sekali gesek lalu tanda tangan. Horeee. Punya gue! Punya gue!
Para akhwat biasanya tidak mudah menghamburkan uang hanya untuk sesuatu yang tidak perlu-perlu amat. Mereka lebih telaten dalam mengurus keuangan, apalagi yang masih menadahkan uang kepada orangtua. Namun yang namanya akhwat kan juga manusia biasa. Lihat jilbab ‘lucu’ langsung bilang, “ih, lucu. Hmm, beli nggak yah?”. Meski akhwat pada dasarnya selalu berpikir panjang dahulu sebelum membeli sesuatu, tapi berapa lama pun berpikir, pasti dibeli juga. Entah sehari kemudian, seminggu kemudian, atau sebulan kemudian. Tidak mudah bagi kita-kita ni untuk melupakan sesuatu yang ‘lucu’, begitu istilah yang sering dilontarkan, pokoknya semua kita bilang lucu. Lihat bros jilbab ‘lucu’, gamis ‘lucu’, pulpen ‘lucu’, buku diari ‘lucu’, sarung hp ‘lucu’, gantungan hp ‘lucu’, buku ‘lucu’ (loh emang ada buku lucu? hehe), sampai al-Quran ‘lucu’ dengan sampul berbulu berwarna pink, semua menggoda iman kita.


*Kata akhwat di sini mengalami penyempitan makna, yaitu wanita yang sudah memaknai islam dengan mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-harinya. Baik dalam berpenampilan, tingkah laku, maupun dalam bertutur kata. Amin, semoga selalu istiqomah ya.


Oleh: Amalia Larasati Oetomo
4 Oktober 2011

Ketimpangan



Ketika mata tertaut pada sosok terdeformasi itu, hati serba bimbang. Haruskah merogoh beberapa uang logam yang terselip jauh di dalam saku, atau menahan diri dalam fragmen ketidakpedulian dikarenakan kekhawatiran akan makin lancarnya siklus ketidakadilan sosok tersebut dalam lingkup kesengsaraan?
      Dimulai dari bayi yang masih kemerahan, sampai para lansia berjejer rapi di trotoar  merupakan pemandangan lumrah bagi warga ibukota. Seorang gadis beratribut selendang dan sarung dikondisikan terlihat sebagai seorang ibu yang memapah bayinya. Menadahkan tangan sambil mengiba pelan sembari menunjukkan bayi yang tertidur pulas dalam dekapannya. Meski kita semua bisa menebak dengan pasti usia gadis belia tersebut, namun lagi-lagi ketidakberdayaan kita terhadap sesuatu yang diskriminatif kurang sinkron dengan akal sehat. Padahal merunut pada sejumlah fakta mengenai human traffic yang kian marak melakukan destruksi terhadap objek-objek tertindas, mestinya kita dengan sigap meruntuhkan dinasti negativitas tersebut
Menurut Friedrich Heinrich Jacobi, bahwa keadilan adalah kebebasan mereka yang sama, ketakadilan adalah kebebasan mereka yang tak sama. Wilayah ‘yang tak sama’ yakni mereka yang menyimpang dari standar normalitas tertentu yang domain karena dianut oleh mayoritas. Penyimpangan yang dimaksud adalah disparitas status sosial dan ekonomi.
         Mereka adalah korban dari krisis makna dalam diri individu. Mereka yang lemah berdasarkan status sosial atau ekonomi akan merasa termarginalkan. Menurut Budi Hardiman dalam buku Memahami Negativitas, di antara mereka ada pula yang menjadi korban ketimpangan sosial, merasa kehilangan tempat dalam masyarakatnya, sehingga mereka merasa diri mereka tak bermakna. Kondisi ekonomi dan politik nasional dilanda krisis turut menjadi kambing hitam ketimpangan sosial tersebut. Yakni angka pengangguran naik, sehingga krisis kepribadian mengiringnya menjadi pelaku kekerasan kolektif. Tidak heran apabila tidak pernah terjadi defisit kemiskinan, yang ada hanyalah ekspansi kaum-kaum yang termarginal.
       Kita berdiskusi mengenai sesuatu yang penuh dengan inferioritas, yakni kondisi suatu golongan yang membuatnya merasa terisolasi sebagai individu, tercerabut dari komunitasnya dan termarginalisasi secara ekonomis. Apabila kondisi terisolasi tersebut dipersepsi mengancam survival-nya, yang terjadi adalah pemanfaatan ketidakberdayaan individu lain sebagai lahan empuk dalam mencapai ke-’normalan’ dalam status sosial. Lalu apakah peran kita sebagai golongan yang senantiasa dicap sebagai agen perubahan? Penulis yakin bahwa setiap individu memiliki diferensiasi persepsi. Semoga kita tidak gagap dalam menghadapi ambivalensi sosial.

Oleh: Amalia Larasati Oetomo
3 Oktober 2011

Share this article ^^