Pengunjung Lapak

Sabtu, 12 Februari 2011

RPUL untuk Riga


Rombakan cerpen mimpi-mimpi Bejo yang sebelumnya banyak dikritik. Saat cerpen ini diadili ternyata makin banyak kritik dan sarannya. Syukron kawan

11-02-2011
Amalia Larasati Oetomo
Siang ini Bejo beranjak dari warung kopi, tempat pengganjal perut dan meregangkan sebagian otot-otot kaku di sekujur tubuh, ke pangkalan yang selalu setia menunggunya. Tidak hanya Bejo, manusia-manusia satu profesinya pun tak luput dari penantian si pangkalan. Mereka adalah para ahli setir. Setir motor maksudnya. Ahli setir motor yang kerap disebut tukang ojek.
Pangkalan itu kira-kira berusia dua puluh satu tahun. Di sudut kanan terdapat pohon tua yang daunnya seakan botak. Pohon tua tersebut dipaku dengan  kayu lapuk yang dijadikan tempat duduk para tukang ojek lelah. Seakan lunglai menderita, setiap ada yang ingin mendudukinya, kayu tersebut berkata dengan memelas, “Tolong, hancurkan saja aku! Aku tidak sanggup menopang kalian lagi!”
Tidak hanya kayu lapuk, di bagian atas pohon, ditempel pula papan yang bertuliskan nama pangkalan ojek. Asal tahu saja, papan warna warni yang bergambar seorang laki-laki mengendarai motor dengan tersenyum lebar tersebut baru dipasang dua bulan yang lalu. Sebelumnya pangkalan itu tidak bernama. Namun karena pangkalan lain memiliki nama dan logo tersendiri, para perkumpulan tukang ojek ini pun tidak mau kalah.
“Ojek Ceria.”
Tidak tahu siapa yang pertama kali mencetuskan, usulan tersebut disertai anggukan para penghuni pangkalan. Syukuran pun dilaksanakan. Dengan menyumbang masing-masing lima ribu, mereka dapat menikmati dua buah pisang goreng beserta kopi hitam. Sisanya dipakai untuk pembuatan papan nama.
Meskipun selintas kekanak-kanakkan, namun nama tersebut memiliki makna mendalam bagi para penghuninya. Makna yang tidak dapat diuraikan menjadi serpihan debu yang dikorek lalu ditiup dari batu bata rapuh. Makna yang hanya dapat diuraikan oleh para tukang ojek pengharap seonggok harapan dan sebutir cinta dari Tuhan Sang Pencipta. Keceriaan dambaan sang tukang ojek ketika mendapat penumpang setelah menghabiskan peluh mengantri tukang ojek lain. Seribu dua ribu masuk ke dalam kantongnya berteriak kelaparan.
Mereka sudah muak dengan teka-teki hidup yang membuat mereka hampir mati penasaran.
“Kapan kami kaya?”
“Kapan kami bahagia?”
“Kapan kami ceria?”
Di bawah pohon tua itu, Bejo memarkirkan Boim, sahabat lama pengantar nafkah masuk pintu rumah, pengantar kedua anaknya menjemput harapan, cita dan cinta.
Bejo duduk di atas Boim, kali ini wajah Bejo tidak mencerminkan jargon pangkalannya. Wajahnya kuyu dan kusut. Kegelisahan menyelimuti bahasa tubuhnya. Bejo turun dari motor, lalu duduk lagi di atas motor. Setiap ada penumpang mendekat, Bejo berlari mendatangi seraya berkata, “Ojek, Mbak.”. “Ojek, Dek”. “Ojek, Mas”.
Namun selalu naas bagi Bejo, tukang ojek bergantian mendahuluinya. Hari sudah menjelang siang, sedangkan Bejo sama sekali belum mendapatkan seorang penumpang pun.
Sekelibat terlintas dalam bayangan. SPP sekolah Riga dan Ratna sudah empat bulan belum terbayar. Uang listrik pun menunggak kurang lebih tiga bulan. Bahkan petugas PLN telah berkali-kali mengancam memutus aliran listrik bila bulan ini belum juga lunas.
Lalu yang paling mencekik nadi adalah tagihan air. Tagihan tersebut selalu datang ke rumahnya meskipun keluarganya sama sekali tidak pernah menikmati air tersebut. Setahun yang lalu, istrinya mendapatkan kabar bahwa akan ada aliran air bersih gratis dari pemerintah untuk kawasan tempat tinggalnya. Karena hati sudah terburu merekah, istrinya dengan sigap ikut mendaftar untuk mendapatkan air bersih dari pemerintah, hal tersebut dilakukan dengan spontan, tanpa berkonsolidasi terlebih dahulu dengan suaminya.
Besoknya, petugas air bersih menagih biaya pendaftaran kepada warga yang telah mendaftar. Istri Bejo bingung, alangkah polosnya dia sampai hati mengira bahwa pemerintah akan tulus meringankan beban rakyat. Kebingungan yang menghantamnya menjadikannya berpikir bahwa tidak ada yang cuma-cuma di sini. Bahkan demi mendapatkan air bersih saja mesti mencengkram leher.
Sebulan kemudian datanglah tagihan air yang sama sekali tidak mereka selami sebutir pun. Pasalnya data keluarga Bejo telah masuk dalam data pemakai meskipun alat belum dipasang karena memang tidak ada uang.
“Tagihan Malapetaka.” Sebut Bejo kepada tagihan air setiap kali tagihan itu mulai mengetuk pintu rumahnya yang reyot.
Tiba-tiba lamunan Bejo tentang ‘Tagihan Malapetaka’ itu tertebas oleh wajah anak bungsunya, Riga. Sudah sebulan Bejo berjanji akan membelikan jagoannya itu RPUL. Bahkan tadi malam adalah malam yang kesekian puluh Riga merengek minta dibelikan RPUL.
***
Adzan Magrib terdengar dari masjid sebelah. Panggilan adzan bertalu-talu menghembuskan angin segar di sekujur badan. Dengan lunglai, Bejo menyeret tubuh tipisnya menuruni Boim, menuju pintu usang yang amat dikenalnya. Pintu itu dibuka, nampak ruangan berisikan kursi plastik merah pudar tanpa meja. Ruangan tersebut berdinding semen dengan cat mengelupas. Dinding tersebut nampak seakan sakit cacar menahun. Di sebelah kiri, terdapat dua ruangan lain yang hanya dibatasi dengan kain sarung robek.
“Bapak pulang, horee.” Riga melonjak kegirangan saat bapaknya bahkan belum sempat duduk untuk melepas penat.
“Mana RPUL nya Pak?” wajahnya bersinar penuh harapan. Dan Bejo adalah penjahat paling kejam yang tega meredupkan sinar di wajah jagoannya itu.
“Maafin bapak, Nak.” “Bapak hanya bawa dapet setoran dua puluh ribu, buat beli bensin sama uang makan kita. Sewa lagi sepi, Nak.” ujar Bejo dengan lirih sembari mengelus kepala anak kelas tiga SD itu. Riga hanya terdiam, bibirnya manyun, matanya dipicingkan. Bejo sudah hapal arti raut wajah anaknya itu.
“Aku sebel sama Bapak.” Riga lalu berlari ke kamarnya, meninggalkan Bejo duduk berdua dengan kursi plastik merah pudar.
Dengan rasa sesak tertahan, Bejo mengambil air wudu ke sumur belakang rumah lalu melangkahkan kakinya yang kaku menuju masjid.
Sepulangnya dari masjid, makan malam berupa nasi dan oseng oncom hangat telah tersaji di atas tikar plastik usang di samping kursi plastik merah.
“Makan dulu, Pak.” bujuk istrinya seraya mengambil sajadah yang di bawa suaminya dan meletakkannya di kamar. Lalu dia bersegera menyendokkan nasi ke atas piring suaminya itu.
“Riga masih ngambek, Bu?” tanya Bejo sambil menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
“Tadi udah ibu bujuk, tapi dia nggak mau keluar kamar. Pas mau ibu suapin di kamar, dia nutup mukanya make bantal.” urai istrinya yang telah mengisi kehampaannya selama delapan belas tahun ini. Bejo hanya diam.
Seusai makan malam, Bejo duduk di teras depan pintu rumah, Bejo melamun. Apakah usahanya selama ini kurang maksimal? Tidakkah Allah melihat usahanya selama ini? Bejo tahu, tidak lah Allah memberikan cobaan kepada hambanya sesuatu yang tidak bisa dilaluinya. Bejo percaya itu.
Lamunan Bejo dibuyarkan dengan tepukan halus anak sulungnya tiba-tiba. Ranti duduk di samping ayahnya seraya berbisik, “Pak, tadi Ranti udah ngitung uang tabungan Ranti, ternyata udah dua puluh ribu.”
“Ya, siapa tau cukup buat beli RPULnya Riga.”
Dengan cepat Bejo menolehkan kepala ke arah Ranti.
“Jangan, Nak, katanya Kamu mau nabung untuk beli kamus Bahasa Inggris. Uang itu Kamu simpen aja ya. Insya Allah besok bapak bawa uang yang banyak untuk Kamu, Riga, dan ibu.”
“Enggak, Pak. Ranti belum terlalu butuh kok, masih bisa pinjem sama Cahya.”
Sebenarnya tidak hanya RPUL untuk Riga, namun semua tagihan-tagihan yang ditujukan kepada keluarganya membuat hatinya terjerembab.
Bejo menatap gadis kelas enam SD itu dengan mata berkaca-kaca. Tidak disengaja bulir air matanya jatuh menyebar di pipi lelaki berusia empat puluh tahun itu. Raut wajahnya yang lebih tua dari usianya tersebut tersenyum bahagia.
Bejo memeluk anak sulungnya dengan isak tertahan.
***
Di bawah terik matahari yang menyengat kulit, Bejo menuju tempat para pedagang kaki lima di sudut jalan. Mereka terlihat tersiksa karena panasnya udara siang ini. Derasnya peluh membasahi baju mereka yang lusuh. Bejo mengendarai motornya dengan pelan, sambil berharap masih ada penjual buku kaki lima seperti yang dilihatnya minggu lalu. Sesaat kemudian, pandangan Bejo terpaut pada sebuah buku dengan sampul warna merah dan hitam dengan judul ‘RPUL Lengkap edisi baru’.
Betapa bahagianya Bejo, hanya dalam hitungan jam, dia akan melihat pancaran sinar di wajah anaknya lagi. Telah lama Bejo terdiam pilu saat mendengar bahwa hanya Riga satu-satunya murid di kelas yang tidak memiliki buku seharga dua puluh ribu itu.
Sekarang saatnya kembali mencari rejeki. Apabila kemarin di pangkalan hanya mendapatkan dua penumpang, siapa tahu dengan menyisiri jalan,  penumpang akan berebut menghampiri. Bejo pun mengendarai Boim mengitari jalan yang padat kendaraan. Berharap ada penumpang yang menggunakan jasa antarnya. Udara panas bercampur unsur berat seakan memenuhi paru-paru Bejo yang kembang kempis meneriakkan udara bersih.
Setelah berkali-kali memutari jalan yang sama, akhirnya di bawah sebuah jembatan penyeberangan terlihat seorang lelaki muda melambaikan tangan ke arah Bejo.
Dengan perasaan gembira, Bejo menghentikan motornya di depan lelaki itu. Tidak di sangka-sangka, dengan nafsu membara, lelaki berusia sekitar dua puluh tahunan tersebut spontan meloncat ke atas motor Bejo.
“Cepet jalan, Bang!”
“Kemana, Mas?”
“Udah, jalan dulu, nggak usah banyak nanya lu!” orang itu mendorong-dorong punggung Bejo. Namun belum sempat Bejo meghidupkan motor, ternyata terdengar teriakan.
“Maling! Maling!”
Mendengar teriakan itu, Bejo dilanda kepanikan, kepalanya menoleh ke arah kanan dan kiri. Namun sumber suara tersebut tidak nampak. Hanya berselang beberapa detik, terlihat jelas massa berjumlah puluhan turun dari jembatan penyeberangan seraya berteriak-teriak.
“Maling! Maling!”
“Uda gua bilang, jalannya cepetan! Ah tau ah!” lelaki itu lalu turun dari motor Bejo dan berlari kencang seraya meninggalkan sebuah dompet di atas jok motornya. Bejo panik setengah mati saat massa tersebut hampir mendekat. Berkali-kali dihidupkan, motornya tidak mau menyala.
“Itu tu temennya maling!” teriak seseorang di antara kerumunan massa itu.
“Gebukkiiiiinn!!!”
***
Berkali-kali aku mengatakan pada diriku sendiri. Aku tidak pantas mempunyai cita-cita. Cita-cita apa yang berhak dimiliki tukang ojek sepertiku?  Memang sudah seharusnya aku menolak usulan nama pangkalan itu. Kami, tukang ojek, tidak akan pernah ceria.
“Pak! Bapak! Ratna, bapak udah siuman. Alhamdulillah ya Allah!” dengan sayup-sayup Bejo mendengar suara seorang wanita paruh baya.
“Bapak!” terdengar pula isakan seorang anak perempuan dan anak laki-laki memenuhi pendengarannya.
“Ratna, panggil dokter! Cepetan!” Bejo mendengar langkah kaki yang menjauh.
Bejo membuka matanya dengan lirih.
“Bapak, udah sembilan hari bapak koma. Hiks hiks. Alhamdulillah ibu-ibu yang dompetnya dicopet bersedia ngebiayain rumah sakit. Ibu itu bilang kalo yang ngambil dompetnya itu anaknya. Jadi pas lagi di dalam mobil, mereka berdua berantem karena ibu itu nggak mau ngasih uang ke anaknya. Anaknya sering ngambur-ngamburin duit.” jelas istrinya, sangat terlihat rona kepanikan dan derasnya air mata menyeruak di wajahnya.
“Tau-tau si ibu itu teriak uangnya diambil. Orang-orang yang denger nyangkanya si ibu kemalingan.”
“Tapi yang penting bapak udah siuman.” ujar istri Bejo seraya memeluk suaminya yang sedang terbaring lemah.
Bejo mencoba bangun dari tempat tidur. Tangannya yang lemah menyentuh tubuh, terasa balutan perban mendominasi. Lalu matanya menuju sesosok wajah, air muka Bejo menyiratkan kebingungan. “Siapa Kamu?”
Mata istrinya membelalak kaget.

0 komentar:

Posting Komentar

Share this article ^^