Pengunjung Lapak

Sabtu, 10 Desember 2011

Cerpen: Aku dan Mimpi Khayalku


Aku tahu, dengan menorehkan daftar mimpi-mimpiku di buku harian, aku bisa mewujudkannya satu-persatu. Ya, memang terwujud. Satu per satu. Oleh karenanya, aku pun hanyut dalam khayalku. Kuhitung daftar mimpiku, satu, dua, tiga, ah, seratus dua puluh satu. Banyak juga ternyata.
Mimpi agar nilai ulangan setiap pelajaran sepuluh, lalu juara kelas tiap tahun, juara debat bahasa inggris, menang olimpiade Fisika, juara lomba karya tulis siswa, jadi penyiar radio, jadi MC, membeli rice cooker untuk ibu, beli tas baru, sampai memperbaiki genteng rumah yang bocor. Semua mimpiku menjadi nyata. Ya, meski ada satu mimpi belum dapat terwujud.
Teringat saat kali pertama aku menorehkan mimpi, yaitu membeli kursi untuk ruang tamu agar ketika tamu datang, ibu tidak harus bersusah menggelar tikar plastik yang sekiranya agak memalukan ketika menjamu tamu. Rasanya kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi di mana pertama kali aku meninggalkan bangku SMP, sebagai siswa SMP yang tidak pintar-pintar amat, tidak ada satu pun mimpi yang berani kugapai.
Ketika itu hidupku bagai robot-robotan yang diatur oleh remote control. Dan remote itu dikendalikan penuh oleh seorang pria yang memiliki hak besar atas hidupku. Ayah beranggapan bahwa demi mendapatkan kualitas diri yang baik, yaitu bersekolah di sekolah terbaik. Kata ayah, aku harus mendaftar ke SMA swasta favorit yang memiliki kualitas pengajaran tinggi. Bahasa pengantarnya pun menggunakan tiga bahasa. Inggris, Jerman, dan Perancis. Aneh sekali. Baru pertama kali aku mendengar dagelan seperti ini. Bahkan bahasa pengantarnya pun tiga bahasa? Namun aku hanya mengangguk lemah di hadapan ayah. Kupikir percumalah jutaan kali mengutarakan keinginan terdalamku pada ayah.
“Sudahlah, Nak, ayah tau apa yang terbaik untuk kamu.” nasihat ibu padaku. Saat itu aku hanya terduduk termangu di samping jendela kamar berwarna pink. Bonekaku terhimpit lenganku yang erat memeluk.
“Iya, Asya tau, Asya emang nggak boleh ngelakuin sesuatu sesuka Asya. Jadi penyiar radio nggak boleh, jadi pelukis nggak boleh, bahkan main ke rumah temen nggak boleh. Sebel sebel.”
“Kemarin kamu diijinin pergi ke rumah temen. Ingat kan?” kata ibu sembari membelai lembut rambutku. Bibirnya tersenyum hangat.
“Iih, emang main ke rumah temen, tapi masa mang Encep juga ikutan. Ayah sama Ibu emang nggak sayang sama Asya.” Mukaku semakin ditekuk, mulutku maju. Pokoknya aku benar-benar kesal saat itu.
“Begini Asya, jangan lagi berasumsi kalau ayah dan ibu tidak sayang sama Asya. Mana mungkin orang tua akan membiarkan anak gadis satu-satunya lepas dari kendali mereka. Lihat teman-teman Asya yang diberikan kebebasan penuh oleh orang tuanya. Diperbolehkan main ke sana ke sini, sampai malam. Bebas main dengan siapa saja. Bahkan ada pula orang tua yang hampir tidak pernah ketemu sama anaknya sangking sibuknya bekerja. Apakah itu yang namanya sayang? Apakah memberikan semua keinginan anaknya itu berarti peduli?”
“Tapi tetep aja, ini tuh gara-gara ayah. Paling nggak ayah dengerin kemauan anaknya. Jangan dengan seenaknya ngambil keputusan tanpa memedulikan Asya keberatan ato nggak. Asya nggak mau masuk sekolah aneh itu! Asya nggak mau les piano, les kepribadian, les bahasa bahasa apalah. Pokoknya nggak mau. Asya maunya masuk SMA biasa ajah! Dan Asya nggak mau liat ayah lagi!”
Nafasku tersengal-sengal, gumpalan gundah telah habis kutumpahkan ke hadapan ibu. Wajahku tak berani kudongakkan menatap wajah ibu. Sesal melanda batin ketika kusadar telah membentak ibu dan mengatakan hal yang tidak seharusnya kulontarkan.
“Baik, ibu akan bicara dengan ayah.” tanpa berbicara panjang ibu segera meninggalkanku sendiri.

***

“Ayuk, Sya.” Rani, sahabat terbaikku mengajakku menuju stasiun radio dekat sekolah. 
“Tapi aku nggak bisa, Ran. Aku nggak bisa ngomong.” tolakku. Aku ingin segera kabur dari sini.
“Tuh kamu ngomong, hehe. Udah kasih aja dulu CV kamu, yang penting kamu udah usaha.” Rani mencoba membujukku. Tapi lagi-lagi aku menggelengkan kepala.
“Ya ampun Asya, aku udah capek-capek bikinin CV buat kamu, kamu malah nggak ngehargain aku. Pokoknya kamu harus ke sana. Inget kan pas SMP dulu, kamu pengen banget jadi penyiar radio. Sekarang kesempatan kamu. Apalagi kamu dulu les macem-macem. Paling nggak kamu punya kualitas, Sya.” kata-katanya terdengar meyakinkan.
“Kamu kan butuh uang untuk biaya ibu, Sya.” lanjutnya. Sekejap aku tersihir oleh kata-kata terakhirnya. Untuk ibu.
“Ya, untuk ibu.” kataku pelan. Mataku tidak jelas menatap ke mana.
“Bener, Sya, apalagi kita kan baru kelas satu SMA, masih belum terlalu sibuk. Aku yakin kamu bisa ngatur waktu. Semangat.” Rani mengepalkan tangannya ke atas seraya menyemangatiku.
Pasti bisa. Aku pasti diterima. Ya, dengan keyakinan itu, nasib baik dalam genggamanku. Stasiun radio tersebut pun menerimaku dengan baik. Berbekal berbagai les yang sempat kujalani, kualitas diriku pun tidak diragukan. Selain itu tawaran MC deras mengalir. Keadaan kini jauh berbeda saat ayah masih dalam dekapanku. Tidak ada lagi yang menjagaku agar aku tidak keluar tanpa sepengetahuan ayah ibu. Tidak ada lagi yang menjegal mimpi-mimpiku. Seketika butiran sesal menggelayut dalam batinku.

***

Aku menggerakkan kaki melangkah maju menuju rumah sederhana di pinggir jalan itu. Dengan langkah gontai, aku memasuki pintu yang terbuka. Mataku tertuju pada satu sosok lemah yang sangat kusayangi. Kulihat ibu semakin pucat, penyakit kanker getah beningnya terus menggerogoti badannya. Rambut ibu kian lama makin menipis saja. Badannya kuyu dan lemas.
“Ibu.” panggilku pelan. Ibu yang kala itu menatap ayat Quran dengan kusyu sekejap menolehkan pandangannya ke arahku. Ibu pun tersenyum. Tanpa babibu aku merebahkan kepalaku di atas pangkuan ibu. Tangannya yang mulai rapuh membelai kepalaku dengan sayang.
“Besok Ibu harus kontrol lagi kan?” tanyaku sembari melepas belaian ibu. Badanku dirapatkan ke samping ibu, kulihat tangan ibu yang semakin kurus lalu kugenggam erat.
“Nggak usah, nanti saja kapan-kapan. Badan ibu masih sehat.”
“Tapi dokter kan bulan lalu bilang kalau ibu jangan terlambat untuk kontrol. Takutnya nanti makin parah lagi.”
“Kan sudah ibu bilang, ibu akan kontrol kalau ibu merasa sakit. Wong sekarang ibu merasa sehat.”
Aku mengangguk.
“Yaudah, jadwal kontrolnya diundur menjadi minggu depan yah.” Seketika aku menorehkan senyuman di depan ibu. Terlihat agak memaksakan.
“Oh, iya. Asya punya berita baik buat ibu. Liat ni, Asya dapet surat panggilan untuk ikut ujian beasiswa dari Pemda. Tadi Bu Santi, wali kelas Asya, yang ngasih. Katanya yang dapet hanya delapan orang dari sekolah Asya yang dikasih kesempatan untuk nyoba ujian masuk Institut Tekhnologi Negeri. Tapi kita belum tentu lulus, Bu.” aku lalu terdiam, menunggu reaksi yang kuharapkan dari ibu. Ibu pun mengambil sepucuk surat yang kusodorkan ke arahnya. Pelukan hangat ibu seketika menghujamku, surat dari Bu Sinta pun spontan remuk. Betapa bahagianya hatiku.
Namun, anehnya tidak sepatah kata pun keluar dari mulut ibu.

***

            Mataku terbuka, rasanya kepala ini sakit sekali. Badan terasa remuk sehingga sukar digerakkan. Aku harus bangun. Aku menggeliatkan badan seraya mengucek mata yang masih saja digelayuti kantuk. Tanganku meraba-raba permukaan kasur, mencari ponsel, hah, jam empat! Aku terlambat dua jam. Seharusnya aku bangun pukul dua malam. Tidak mungkin dengan waktu yang singkat aku dapat belajar ujian beasiswa, belajar Ujian Nasional, sholat Qiyamul Lail delapan rakaat,murajaah Quran, dan masak keperluan dapur. Ya Allah, engkau lalaikan aku atas kelalaianku mengatur waktu.
            Hei, aku sudah kelas tiga SMA. Di siang hari tidak ada waktu lagi. Aku harus sekolah sampai siang, lalu bekerja di Mall dekat sekolah untuk menjadi MC, malam harinya aku harus siaran radio sampai pukul sembilan malam. Tapi tak apalah, aku harus tetap semangat.
            Berbeda ketika aku duduk di bangku SMP, di mana aku hanya menjadi sosok pecundang yang bahkan tidak pernah sekalipun masuk sepuluh besar. Cobaan hidup mengubah semua. Seakan berbalik 180 derajat, di bangku SMA saat ini, aku sempat menjuarai berbagai lomba seperti lomba debat bahasa Inggris, lomba karya tulis ilmiah, Olimpiade Fisika tingkat provinsi, dan lain-lain. Akulah satu-satunya siswa non organisatoris yang menjadi penyumbang piala terbanyak di sekolahku. Ya, hal melelahkan ini kulakukan agar aku dapat menceklis mimpi-mimpi yang kutorehkan di lembaran buku harian. Tidak, bukan itu, agar aku dapat membiayai kehidupan kami berdua. Bahkan bukan hanya itu, agar aku dapat menggoreskan senyum di bibir ayah dan ibu. Pikiranku menggelayut ke mana-mana.
            Setelah murajaah Quran, kubuka kembali buku harian bersampul pink kesayanganku. Aku tersenyum simpul ketika mataku tidak berhenti menatap curahan hatiku saat pertama kali menginjak bangku SMA. Tulisan berisi tangisanku atas kepergian ayah dan berkembangbiaknya kanker di tubuh ibu dan perihnya kerja kerasku membiayai pengobatan ibu. Betapa aku mengubah diri dari menjadi gadis yang sangat biasa menjadi luar biasa. Dengan lembut aku pun membalik halaman buku menuju halaman yang berisikan daftar mimpiku. Tinggal satu mimpi lagi….

***

Selepas sholat Qiyamul Lail, pikiranku sekelebat menuju tiga tahun yang lalu. Saat-saat di mana aku kehilangan semuanya. Seketika aku tersadar, jangan sampai bias lamunan ini mengganggu. Ketika pagi menjelang, segera kulangkahkan kaki menuju papan pengumuman penerima beasiswa Institut Tekhnologi Negeri.
“Stop, Pak.” perintahku pada tukang bajaj ketika sampai di kantor pemda.
“Ini, Pak. Makasih.” Selembar lima ribu kuberikan pada tukang bajaj tersebut. Sesaat turun dari bajaj, aku menarik napas panjang-panjang. Bismillah.
Aku menatap pintu gerbang hijau yang berdiri tegak di depanku. Kutarik napas panjang kembali. Harus yakin, ucapku pada diri sendiri.
“Hei, kamu. Mau liat pengumuman juga ya?” Suara ramah itu bersumber dari seorang perempuan berkacamata yang berjalan mendekatiku.
“Iya.” jawabku juga ramah.
“Kita liat bareng ya. Aku Nisa.” dia menyodorkan tangannya. Tanganku pun menyambut.
“Asya.” jawabku.
Akhirnya kami pun sampai di depan papan tulis berwarna putih yang penuh dengan kertas HVS berisikan daftar nama yang menerima beasiswa. Nomor 423, mana ya nomor 423. Mataku tidak lepas dari daftar nama di depanku.
Tidak kuduga. Ternyata namaku ada di urutan ke dua puluh. Horee!! Tapi, ah, tapi apa itu?

Penerima beasiswa harus membayar sejumlah uang untuk mencairkan dana beasiswa selama perkuliahan. Besarnya dana tidak sama pada setiap jurusan.

Jantungku berdegup kencang. Nafasku sesak tersengal. Badanku gemetaran. Dengan setengah berlari aku menuju kantor yang tempat daftar dana yang harus dibayar. Astagfirullah. Tidak mungkin! Kakiku lemas. Aku ingin pingsan. Aku bolak-balik daftar itu.

Jurusan Teknik Geologi = Rp 20.000.000

Bukk!!! Aku pingsan.

***
Nothing imposibble. Sugesti itu menjalar ke setiap cabang saraf di otakku. Nothing imposibble. Ketika ayah pergi dan meninggalkan kami berdua. Memang tidak ada yang tidak mungkin. Toh siapa yang menyangka ketika saat itu ibu menasihatiku, ternyata ayah menguping di depan pintu kamar. Mendengar semua percakapan kami, semuanya. Bahkan kalimat yang menyatakan bahwa aku tidak ingin bertemu dengan ayah lagi. Siapa yang menyangka setelah mendengar semuanya, beliau langsung merobek formulir pendaftaran SMA swasta favorit dan pergi membeli formulir di SMA Negeri impianku.
 Memang tidak ada yang menyangka. Aku tidak bertemu dengan ayah sejak saat itu. Ibu yang hanya lulusan SMA tidak terlalu paham dengan bisnis ayah. Yang ibu tahu jalan untuk menghidupiku yaitu menjual harta berharga kami, termasuk omset-omset ayah. Ketidakpahaman ibu dimanfaatkan oleh relasi bisnis ayah dan menipu kami. Membayar harta benda kami dengan harga murah. Nothing Impossible.
 Masih pada bulan yang sama, ibu didiagnosa mengidap kanker getah bening. Badanku seketika luluh lantah, dadaku sangat sesak. Bagaimana bisa kedua orang yang kusayang mengalami kejadian yang paling menyedihkan. Belum kering air mataku menangisi kepergian ayah tersayang, mengapa ibuku juga ingin Kau ambil?
 Dengan sekali sambar, tas ransel kusam di atas tempat tidur aku cangklongkan ke atas pundakku. Semoga perjuanganku selama ini tidak berhenti hanya karena kerikil kecil yang menghadang. Tidak ada yang tidak mungkin. Pasti kerja kerasku akan terbayar. Tidak sekarang, mungkin nanti.

Ciputat, 21 September 2011


Kamis, 28 Juli 2011

Stop Eksploitasi dan Kekerasan PADA ANAK!!!

telah dimuat di Suara Jakarta

28072011
Oleh: Amalia Larasati Oetomo

“Terik panas matahari memancarkan radiasi surya mencekamnya. Seorang anak kurus penuh peluh berbaju lusuh mengayun-ayunkan kecrekan tutup botol di samping mobil mewah keluaran eropa. Suara sumbang dengan enggan keluar seadanya. Lama dia bernyanyi diiringi kecrekan tua, tapi jendela hitam itu bergeming tegak, tidak ada tanda-tanda sebuah tangan putih bersih keluar memberikan receh.”

Sejenak itu lah pemandangan yang sehari-hari tampak di jalan ibukota. Walau sebenarnya tidak hanya di ibu kota, anak-anak yang berprofesi sebagai pengemis dan pengamen pun telah merambah ke daerah-daerah pelosok.

Senyatanya, mayoritas dari mereka adalah anak-anak di bawah umur yang sejatinya berada dalam hangatnya dekapan orangtua. Tidak jarang terlihat anak berusia kisaran tiga sampai empat tahun menjual suara seadanya sambil mengiba pada penghuni kendaraan umum. Ada pula bayi-bayi yang disewakan kepada para pengemis dan pengamen demi meraih belas kasihan.

Kondisi nyata anak Indonesia sangat unik dengan adanya perbedaan atau disparitas yang sangat tinggi, akibat kondisi tanah air kita yang begitu luas dengan suku bangsa dan budaya yang heterogen. Kondisi ini jelas berbeda dari negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura. Juga dengan negara-negara di Eropa. Selain masalah perbedaan, anak-anak Indonesia juga terkena masalah ambivalen pengambil kebijakan atau orang-orang yang berpengaruh di masyarakat. Masalah eksploitasi terhadap anak dan juga masalah kekerasan terhadap anak sangat tinggi.

Drs Hadi Supeno MSi, Ketua KPAI, mengatakan bahwa eksploitasi anak-anak di Indonesia sangat tinggi dan sangat bervariasi. Hal tersebut ditunjukkan pada beragamnya jenis eksploitasi pada anak di Indonesia. Berikut adalah contoh kasus yang dapat kita komparasikan. Ada kah tampak persamaan antara tiga kasus ini? Orangtua yang membawa anaknya mengemis dan memulung, lalu orangtua yang mendorong anaknya untuk menjadi dai cilik di stasiun televisi, yang terakhir adalah orangtua yang membantu mewujudkan mimpi anaknya untuk menjadi penyanyi terkenal. Benang merah yang terkait dari ketiga kasus tersebut adalah masalah ekonomi.

Ekonomi adalah faktor yang merajai menjamurnya eksploitasi anak di dunia. Contohnya adalah perdagangan anak. Merunut pada fakta yang ada, berdasarkan data Advance Humanity, Unicef, sekitar 1,2 juta anak diperdagangkan setiap tahunnya. Agak mencengangkan memang, apalagi berdasarkan data tersebut, kebanyakan (anak-anak laki-laki dan perempuan) diperdagangkan untuk eksploitasi seks. Ada sekitar 2 juta anak di seluruh dunia yang dieksploitasi secara seksual tiap tahunnya. Industri perdagangan anak ini menangguk untung 12 miliar dolar per tahunnya.

Di Indonesia sekali pun, banyak gadis yang memalsukan umurnya, diperkirakan 30 persen pekerja seks komersil wanita berumur kurang dari 18 tahun. Bahkan ada beberapa yang masih berumur 10 tahun. Diperkirakan pula ada 40.000-70.000 anak menjadi korban eksploitasi seks dan sekitar 100.000 anak diperdagangkan tiap tahun. Berdasarkan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UU PA) memberikan ancaman hukuman lima tahun penjara bagi siapa saja yang mempekerjakan/ mengeksploitasi anak dibawah umur, namun payung perlindungan hukum tersebut seakan hanya menjadi untaian pelengkap undang-undang saja.

Selain eksploitasi yang berujung pada faktor ekonomi, anak pun tidak terhindar kekerasan berupa pelampiasan buruk lingkungan sekellilingnya. Seperti kekerasan fisik atau psikis dilakukan ayah atau ibu di rumah, atau bahkan kekerasan dari teman-teman sebayanya yang berujung kematian.

Padahal jaminan agar anak-anak terlindungi dari tindak kekerasan telah ada pada konstitusi. Pasal 28 B UUD 45 mengamanatkan, anak berhak atas perlindungan dari kekerasan. Namun sayangnya, delapan tahun sudah aturan ini dibuat, nyatanya masih banyak kekerasan yang terjadi pada anak-anak. Kekerasan mental dan fisik bagi anak sangat berpengaruh dalam pola berpikir dan ketahanan mental anak.

Moore (dalam Nataliani, 2004) menyebutkan bahwa efek tindakan dari korban penganiayaan fisik dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada anak yang menjadi negatif dan agresif serta mudah frustasi, ada yang menjadi sangat pasif dan apatis, ada pula yang tidak mempunyai kepibadian, ada yang sulit menjalin relasi dengan individu lain, dan ada pula yang timbul rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri. Selain itu Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, seperti perkembangan tubuh kurang normal juga rusaknya sistem syaraf. Begitu besar dampak kekerasan pada anak.

Oleh karena itu, dibentuk lah suatu lembaga perlindungan anak atau KPAI yang dalam Pasal 74 UU tersebut bertugas meningkatkan efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak, menyosialisasikan seluruh aturan per-undang-undangan terkait perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan dan melakukan pemantauan, evaluasi dan pengawasan. Meski nyatanya, perlindungan anak dan pemenuhan hak-haknya di negeri ini, masih belum sistemik, masih parsial dan segmentaris.

Sejatinya, masalah eksploitasi anak sebenarnya bukan lah merupakan masalah internal dalam keluarga yang tidak dapat diikutcampuri oleh masyarakat dan pemerintah. Semua komponen negara yang terdiri dari pemerintah, masyarakat, dan LSM juga harus turut berperan serta dalam menyelesaikan masalahan eksploitasi anak. Upaya penanganan masalah harus secara profesional, terorganisir, dan berkesinambungan. Penanganan yang dilakukan harus menggunakan metode yang tepat, misalnya dengan cara persuasif, manusiawi, dan memahami berbagai karakteristik.

Ini adalah masalah kita bersama. Meski dalam pencapaiannya harus terdapat kesadaran sejak dini mengenai bahaya eksploitasi dan kekerasan pada anak. Hal ini harus disadari oleh para orang tua dan calon orang tua dalam menciptakan suasana yang kondusif bagi anak untuk tumbuh kembang demi mencapai masa depan cemerlang.  Upaya ini penting, hal ini dikarenakan anak adalah calon penerus bangsa yang harus dijaga mental dan akhlaknya.

Sebuah hadist:

“Bukanlah dari golongan kami yang tidak menyayangi yang lebih muda dan ( bukan dari golongan kami ) orang yang tidak menghormati yang lebih tua.” (HR At Tirmidzi)

Seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi).

Jumat, 22 Juli 2011

Sebuah Esai: Tentang Guru dan Penghargaannya

-->
-->
 
-->Gambar diambil dari http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3376278673652412781
Ciputat,
22072011
Oleh: Amalia Larasati Oetomo

*Berawal dari kegelisahan para guru (termasuk ibu saya), saya (calon guru), dan para praktisi pendidikan lain.

Putu Wijaya: Cerpen Guru
Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh…. (Cerpen Guru, Putu Wijaya, 2001).
                Kutipan cerpen Guru karya Putu Wijaya mengingatkan saya pada segelintir kalimat yang dilontarkan seorang pembicara pada sebuah seminar keguruan, ''Kalau Anda ingin jadi orang kaya, maka jangan pilih menjadi guru,''. Kalimat yang cukup menghentakkan batin saya. Ironi memang. Keironian ini terakumulatif pada realitas diskursif  yang terpatri dalam paradigma berbagai kalangan. Lagi-lagi mengacu pada kondisi mayoritas guru yang duduk di bawah lini ketidakmapanan.
                Realita yang terpatri mengenai kondisi guru di tanah air disebabkan masih banyaknya perlakuan diskriminatif. Aspek imbalan jasa, baik materi maupun non materi, pun jauh dari kepuasan dan keadilan. Mayoritas honor guru PNS luar Jakarta, apalagi guru honor. Bahkan segelintir dari mereka (guru honor) hanya mendapatkan kurang dari Rp 500.000 per bulan. Mengenaskan memang. Belum lagi tempat mengajar yang (lagi) jauh di bawah standar kemanusiaan: kelas bocor, lantai pecah, ruang kelas roboh, kekurangan alat bantu, halaman sempit dan kotor.
Merujuk kembali pada karya sastra Putu Wijaya, cerpen Guru. Tokoh utama dalam cerpen Guru adalah Aku. Tokoh Aku yakni seorang ayah dengan obsesi besar terhadap putra semata wayangnya, Taksu. Taksu digambarkan berupa sosok idealis, meski di awal cerita, penggambaran karakternya belum terdapat eksplorasi. Karya sastra dengan konfigurasi dialog ini agaknya berhasil membawa pembacanya terhenyak. Betapa tidak, dengan kondisi carut-marutnya sistem kenegaraan kok masih ada yang bermimpi jadi guru (merunut mayoritas pembaca). Padahal sesuatu yang mungkin bagi konfigurasi kekinian tersebut dewasa ini jatuh pada satu kata populis: materi.   
                Materi acapkali merupakan tujuan utama tiap individu ketika duduk di bangku pembelajaran. Alhasil yang dihasilkan dari metode pembelajaran hanyalah produk, bukan proses. Dalam bukunya, Toward a Theory of Instruction, Jerome Bruner (1966) menjelaskan bahwa, “We teach a subject not to produce little living libraries on that subject, but rather to get student to think mathematically for himself, to consider matters as an historian does, to take part in the process of knowledge-getting. Knowing is a process not a product.”[1]
                Pembauran pembelajaran sebagai ‘produk’ versus ‘proses’ inilah yang menjadikan kesalahan paradigma peserta didik dalam menentukan tujuan belajar, ‘Untuk apa saya belajar?’ Agaknya kesalahan paradigma ini menjadi elemen pembenahan terpenting pada pelbagai kelindan persoalan. Dengan mengacu pada proses, bukan produk, diharapkan meminimalisasikan materi sebagai sesuatu yang sentralistik dalam proses pencapaian tujuan. Ketika paradigma matrialistik terminimalisasi, maka diharapkan lahirnya pencitraan seimbang bagi guru dengan profesi lain.
                Acuan paradigma mengenai materi ini lah yang menjadi bumbu utama penyebab konflik Aku dan Taksu. Klimaks kisah ini ialah menghilangnya Taksu dalam kurun waktu sepuluh tahun. Lalu tiba-tiba kembali dengan mendapatkan hadiah gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi bergengsi. Tidak hanya itu, Taksu juga berprofesi sebagai pengusaha besar yang mengimpor barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah mancanegara.
                Yang saya pertanyakan adalah bagaimana bila Taksu yang selama sepuluh tahun tidak pulang, tiba-tiba datang membawa gelar pendidikan dengan profesi (hanya) sebagai guru sekolah? Tanpa embel-embel doktor honoris causa atau pengusaha besar. Akankah ending cerita seindah imajinasi Putu Wijaya? Lagi-lagi pengkultusan terhadap materi yang diusung.
Ada sebuah cerita menarik yang pernah saya baca pada sebuah website milik seorang guru MAN 3 Batusangkar alumni Fakultas Pendidikan Monash University, Australia. Suatu ketika beliau memperkenalkan istrinya yang seorang dokter, seorang temannya kontan berkomentar, “Oh .. you are lucky, Anto. You are only a teacher, and you get a doctor as your wife”. Dengan kernyitan di dahi, beliau menjawab, “So, what. Apa seorang guru tak pantas berjodoh dengan seorang dokter?'”[2] Hmm, lagi-lagi menjadi korban pencitraan rendahan bagi mayoritas kalangan. Hasil dari pencitraan yang dinilai dari pencapaian materi.
                Dengan emosi yang meluap-luap para guru pasti berkata, “Mendingan nyalahin pemerintah aja yang menjadikan guru sebagai profesi rendahan, gaji tidak manusiawi, janji sertifikasi tapi hanya segelintir yang menikmati. Rasanya berprofesi sampai mati, tidak dihargai.”  (saduran representatif mayoritas guru di nusantara).

Birokratisasi Profesi Guru
Birokratisasi profesi guru di zaman Orde Baru senyatanya menghasilkan mayoritas guru bermental pegawai. Orientasi jabatan ini sangat kental melekat dalam diri para guru. Jabatan guru utama tidak lagi dilihat sebagai tujuan puncak karier yang harus diraih seorang guru, melainkan lebih pada jabatan kepala sekolah atau jabatan-jabatan birokrasi lainnya di dinas-dinas pendidikan maupun di departemen pendidikan. Semangat profesionalismenya luntur seiring terjadinya disorientasi jabatan ini.
Disorientasi jabatan tersebut pada akhirnya semakin memperkokoh kekuasaan birokrasi dengan menjadikan guru sebagai bagian dari pegawai-pegawai bawahan yang harus tunduk patuh pada perintah atasan. Guru yang berani mengkritik, apalagi memprotes tindakan atasan yang tidak benar, dengan mudah diperlakukan sewenang-wenang seperti diintimidasi, dimutasi, diturunkan pangkatnya atau bahkan dipecat dari pekerjaannya. Kasus mutasi Waldonah di Temanggung, kasus mutasi 10 guru di Kota Tangerang, kasus pemecatan Nurlela dan mutasi Isneti di Jakarta, serta beberapa kasus penindasan terhadap guru di berbagai daerah menunjukkan begitu kuatnya proses birokratisasi profesi guru sampai saat ini. Hmm, mengenaskan memang.
Padahal UU Guru dan Dosen juga memberikan perlindungan hukum kepada guru dari tindakan sewenang-wenang birokrasi, baik dalam bentuk ancaman maupun intimidasi atas kebebasan guru untuk menyampaikan pandangan profesinya, kebebasan berserikat/berorganisasi, keterlibatan dalam penentuan kebijakan pendidikan dan pembelaan hak-hak guru.
Lalu pada pasal 39 Ayat 3 menegaskan bahwa guru mendapat perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidak adil dari pihak birokrasi atau pihak lain.
Klausul ini mempertegas hak guru untuk terlibat dalam setiap pengambilan kebijakan pendidikan, mulai dari tingkat sekolah sampai penentuan kebijakan pendidikan di tingkat provinsi maupun pemerintahan pusat. Guru tidak boleh lagi ditempatkan sebagai bawahan yang hanya menerima berbagai kebijakan birokrasi, tetapi harus duduk bersama untuk merumuskan kebijakan yang partisipatif.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Berbekal dari semboyan ‘pahlawan tanpa tanda jasa ’ yang diusung pemerintah, agaknya bertolak belakang dengan pelbagai fakta yang menyeruak di permukaan. Menurut sebagian kalangan, ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ lebih banyak dipersepsi sebagai pelecehan ketimbang penghargaan.[3]
Kata ‘Pahlawan tanpa tanda jasa’, agaknya menarik bila dikaji secara mendalam. Yakni pahlawan yang berkontribusi dalam melakukan ekspansi ilmu terhadap peserta didik tanpa embel-embel pamrih di belakangnya. Sejatinya, wajar-wajar saja kalau gaji guru amatlah minim, wong tanpa tanda jasa. Lagi-lagi akibat birokratisasi profesi guru yang menempatkan posisi sebagai bawahan menjadikan guru sebagai objek diskriminatif. Disorientasi jabatan ini lah pemicu ketakutan guru dalam mengusung hak-haknya.
Mungkin menarik apabila saya komparasikan honor guru nusantara dengan Jepang. Ya, mungkin kita tidak dapat menyejajarkan kondisi negara yang sejatinya memiliki kesenjangan cukup jauh. Namun sudah jamak diketahui, ketika Jepang mendapat hadiah Bom Hiroshima dan Nagasaki, pemerintah Jepang hanya mempertanyakan berapa guru yang masih tersisa. Sadar atau tidak, kemajuan suatu negara adalah refleksi dari kualitas pendidikan.

Grade
Teachers
Yen (a month)
Head-Teachers
Yen (a month)
Principal
Yen(a month)
2
156,500
292,500
422,400
4
184,200
320,900
439,800
6
202,500
348,600
456,200
8
217,900
369,500
471,500
10
237,600
389,000
485,600
12
262,000
406,100
500,100
14
288,200
422,200
512,100
16
315,700
437,300
18
342,700
451,000
20
362,900
463,800
22
381,400
474,100
24
397,600
482,200
26
411,200
488,400
28
422,400
30
432,300
32
441,300
34
449,700
36
455,900
Berdasarkan tabel tersebut, selain medapatkan gaji bulanan, para guru juga memperoleh extra salary (adjusment allowance) sebesar 4% gaji bulanan, dan juga akan mendapatkan bonus dua kali dalam setahun, yaitu bulan Juni dan Desember sebesar 4.65% gaji bulanan.  Gaji guru di sekolah negeri dibayar oleh pemerintahan di tingkat prefecture (provinsi) sebesar 50% dan pemerintah pusat 50%. Prosentasi ini bisa berubah jika kondisi provinsi tidak begitu kaya.  
“Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!” (Cerpen Guru, Putu Wijaya, 2001).
Merunut pada fakta-fakta yang telah diungkap tadi mengenai pendiskriminasian profesi guru, agaknya pengusungan hak-hak guru harus disertai gerakan debirokratisasi profesi guru.  Oleh karena itu, profesionalisme guru harus dibangun bersamaan dengan dorongan untuk membangun keberanian guru melibatkan diri dalam setiap pengambilan kebijakan pendidikan, bebas menyampaikan berbagai pandangan profesinya, mengkritik, berserikat sebagai wujud kemandirian profesinya, dan mendapatkan penghargaan setara dengan jerih payahnya. Sehingga hal itu dapat meredam proses diskriminatif yang dialami mayoritas guru Indonesia.
Namun lagi-lagi proses yang tidak instan itu tidak mudah bersinergi dengan fakta lapangan. Bila ada anekdot, ‘orang miskin dilarang pintar’, maka anekdot lain akan berbunyi, ‘guru Indonesia dilarang kaya’.







[1] Ratna Wilis Dahar, 1996: 106
[2] enewsletterdisdik.wordpress.com/2008/.../guru-indonesia-juga-berhak-kaya
[3] http://nadhirin.blogspot.com/2009/03/guruku-pahlawanku.html
[4] http://www.educationworld.net/salaries_jp.html



Share this article ^^